Tips bermain drum tanpa guru

Banyak sekali pencarian internet yang mengarah pada “belajar drum otodidak”, mengapa bisa demikian? karena belajar drum dengan didampingi guru memang cukup mahal. Sangat tidak cocok untuk kalian yang sudah bekerja dan memiliki banyak kebutuhan. Meskipun sebenarnya belajar dengan guru jauh lebih menguntungkan dibanding otodidak tak lain karena keberadaan guru yang bisa menjadi kompas buat karir kita.

Tapi sebagai pribadi yang harus menerima kenyataan, tentunya kita tidak bisa memaksakan diri membayar guru drum mahal lalu mengesampingkan kebutuhan primer. So, jika danamu terbatas sebaiknya belajar sendiri saja dirumah, ketahuilah belajar drum itu cukup mahal, coba bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk beli drum atau memiliki ruang kedap suara? Semua itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Berikut ini ada tips sederhana yang mungkin bisa membantu kalian belajar drum sendiri dirumah:

a. Pastikan memiliki drum, stick dan alat-alat penunjang lainnya. Ini merupakan properti yang sangat dibutuhkan. Terserah kalian ingin mencari drum bekas atau bukan, namun untuk melakukan penghematan carilah drum yang masih berkwalitas bagus.

b. Teknik memegang stick dan menginjak pedal. Untuk menghasilkan suara drum yang bagus pastinya dibuthkan kerja sama yang baik antara pemukulan stick serta penginjakan pedal yang benar. Jika salah dalam melakukannya atau telalu lemah menginjak pedal maka suara yang keluar akan terdengar sumbang. Jadi lakukan dengan keras dan maksimal.

c. Teknik memegang stick. Terdapat berbagai macam teknik salah satunya adalah matched grip yaitu teknik pemegangan antara close hand dan open hand

d. Teknik menginjak pedal. Banyaknya teknik dalam menginjak pedalpun kadang menjadi masalah. Namun pilihlah teknik yang dibutuhkan dalam genremu saja dan usahakan pilih yang membuatmu nyaman

e. Cobalah membuka video atau internet untuk menambahkan pngetahuan kamu dalam bermusik.

f. Perhatikan tempo agar permainan kamu makin sempurna. Jangan bermain dengan tempo yang cepat karena semakin cepat kamu bermain cepat tubuhmu akan semakin mudah lelah

g. Untuk mendukung itu semua cobalah kamu menggunakan penutup telinga untuk mengurangi adanya kerusakan telinga.

Advertisements

Mitos keliru tentang belajar musik

a. Harus berpengetahuan luas
Untuk menjadi seorang musikus apalagi misalnya pianist dibutuhkan pengetahuan yang luas dibidang musik. Ini adalah salah satu mitos paling konyol yang pernah ada. Seorang master musik awalnya pasti tidak tahu apa-apa baik mengenai musik maupun instrumen pilihannya. Tidak ada musisi spesialis dari genre apapun yang tahu banyak bidang musik ketika memutuskan menggeluti pilihannya.

Yang mereka lakukan adalah fokus, menjadi ahli dalam genre atau instrumen tertentu. Mulai sekarang cobalah untuk tidak mendengarkan nasihat-nasihat seperti, “Kamu harus belajar musik klasik untuk bisa bermain piano dengan baik,”. Satu-satunya hal yang kalian butuhkan untuk pandai bermain piano misalnya hanyalah berlatih dengan konsisten

b. Harus bisa memainkan semua teknik
Kalian tahu gitaris Van Halen? apakah ia pandai memainkan semua jari-jarinya? Jawabannya adalah tidak, namun ia tetap dianggap sebagai salah satu satu gitaris klasik terbesar sepanjang sejarah musik. Sebenarnya dibanding menguasai seluruh teknik bermain akan lebih baik untuk lebih dulu mengimbangi diri dengan keterampilan lain seperti improvisasi dan penciptaan lagu. Namun jangan juga kalian jadikan ini sebagai dalih untuk berhenti mempelajari berbagai teknik permainan. Belajar mutlak harus terus dilakukan, hanya saja imbangi dengan materi teori musik juga.

c. Menguasai semua alat musik
Banyak yang berpendapat menguasai semua alat musik merupakan cara terbaik agar kita bisa cepat mempelajari instrumen pilihan. Hal ini sungguh mitos yuang menyesatkan. Ini adalah filosofi paling close-minded. Mempelajari banyak instrumen musik justru membuat waktu belajar kalian lebih lama. Coba pilih salah satu instrumen saja dulu, misalkan jika kalian suka piano, beli piano dan fokus untuk memainkan piano. Setelah mahir barulah mencoba gitar atau drum, cara seperti ini jauh lebih efektif.

http://id.yamaha.com/

Cedera yang sering diabaikan pianist

Ada banyak cedera yang mendera para musisi, sehingga memunculkan banyak penelitian, diagnosis dan pengobatan baru yang dikhususkan untuk para musisi. Namun lebih banyak kajian saat ini berfokus menyelesaikan penelitian terkait cedera pianist karena memang selalu berakibat fatal. Memang seberapa besar pianist yang menjadi korban dari cederanya itu? Jawabannya mungkin sekitar 65% – 80% dari seluruh total pianist yang ada dimuka bumi.

Para peneliti telah mencoba untuk menentukan berapa persen dari para pianist instrumentalis yang menderita sakit dan cedera setidaknya sejak tahun 1980-an. Salah satu peneliti yang paling awal, ahli bedah ortopedi Australia Hunter Fry, menerbitkan beberapa makalah selama tahun 1980-an yang menunjukkan prevalensi cedera mulai dari 5% sampai 80% dari musisi. Para musisi ini terdiri dari kalangan mahasiswa dan profesional.

Salah satu studi melaporkan berita mengkhawatirkan bahwa dari 98 instrumentalis SMA , 63% dari perempuan dan 49% laki-laki menderita cedera. Anehnya sebagian besar pianist yang didiagnosis mengalami cedera ini mengaku tidak merasakan sakit sama sekali, hanya saja ketika ia berlatih lebih dari dua jam sikunya terasa agak sakit dan mereka menganggap hal ini adalah sebuah kewajaran diakibatkan gerakan berulang-ulang dalam waktu lama.

Rasa sakit seperti itu merupakan awal mula cedera berat yang pada akhirnya akan membuatmu kehilangan fungsi otot. Selain itu pianist juga kerap mengesampingkan rasa sakit di leher, bahu atay bahkan lengan bagian atas padahal nyeri-nyeri seperti ini juga sama bahayanya dengan cedera dibagian pergelangan tangan. Herannya banyak musisi yang sepakat bahwa nyeri tersebut tergolong wajar sehingga mereka tidak mengkonsultasikannya saat pergi ke dokter.

Ingatlah rasa sakit diseluruh bagian tubuh bahkan yang kalian pikir tidak berhubungan dengan pianis sebenarnya berposenti menjadi cedera dan kemungkinan besar akan mempengaruhi akurasi dan kualitas suara. Jika ingin memainkan instrumenmu dengan lebih baik mulai pikirkanlah tentang rasa sakit dibagian tubuhmu, bukan hanya berpikir bagaimana caranya beli piano klasik berharga puluhan juta rupiah.